Curug Gentong

galery curug gentong.

Air Terjun Dalam Gentong 
Berawal dari kecintaannya terhadap alam, lahir sebuah karya unik berupa miniatur air terjun dalam gentong. Miniatur ini dilengkapi dengan ornamen pendukungnya. Bagaimana proses kreatif Rico hingga menghasilkan karya unik ini?

Mulanya kreasi miniatur air terjun dalam gentong hanya untuk dinikmati sendiri. Kala rasa rindu pada alam pedesaan dan pegunungan datang, Rico bisa memandangi kreasinya. Meski hanya sebuah miniatur namun dapat mengobati sedikit rasa rindunya.

 
“Rasa cinta saya pada alam memang sudah tumbuh sejak kecil. Ketika remaja, saya gemar sekali mendaki gunung. Menikmati alam membuat hati kita tenang. Sampai suatu ketika saya berpikir, kenapa tidak saya pindahkan saja suasana alam pedesaan lengkap dengan air terjunnya ke rumah. Lalu bagaimana membungkusnya agar tampak menarik dan unik, secara tak sengaja mata saya melihat gentong. Dari situlah karya itu berawal,” ungkap Rico yang dijumpai Koran Tokoh di Gedung Pameran Kantor Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta.
 
Untuk menghasilkan karya seperti sekarang, dibutuhkan waktu cukup lama. Ide pertama kali didapat tahun 1993. “Saya melakukannya secara otodidak, tidak ada panduan, apalagi yang mengajari. Percobaan demi percobaan saya lakukan sendiri, sehingga lama kelamaan karya saya menjadi lebih baik,” tambah bapak lima anak yang juga hobi melukis dan teater ini.

Latar belakang seni yang dimilikinya sangat membantu dalam menyempurnakan karyanya sehingga terlihat unik. Semua itu memang berawal dari iseng dan sekadar hobi. Karenanya Rico tidak menetapkan suatu nilai (rupiah) tertentu apabila ada yang meminta membuatkan air terjun dalam gentong.
 
Tak terasa semakin hari semakin banyak yang memiliki produk kreasi Rico. Selain banyak yang minta dibuatkan, dia juga kerap membagi-bagikan kepada saudara maupun teman-temannya sebagai hadiah. 
 
Respon mereka pun sangat baik sehingga semakin membuat Rico bersemangat. “Tapi sejauh itu saya masih menekuninya sebagai hobi, belum berpikir ke bisnis. Meski pesanan makin lama makin banyak,” ujarnya.
 
Promosi dari mulut ke mulut membuat karyanya makin dikenal sehingga tak terasa pesanan makin banyak dan membuatnya nyaris kewalahan.
 
Kuncinya, Mutu dan Desain
 
Dari sanalah ia melihat bahwa ternyata hobi yang ditekuninya itu bisa dijadikan lahan bisnis. Sejak pikiran itu terlintas, Rico menjadi semakin serius. Pesanan-pesanan ditanganinya secara profesional dengan penekanan pada mutu dan keunikan desain.
  Hal ini agaknya menjadi salah satu kunci kenapa produknya mendapat tempat di hati masyarakat, khususnya penggemar seni.
 
“Ketika pikiran untuk menjadikan hobi saya menjadi bisnis, saya langsung melakukan persiapan-persiapan. Saya tidak mengubah apa yang selama ini telah berjalan, termasuk media gentong yang membungkus air terjun. Nama dagang pun sesuai dengan
Produknya, saya pilih nama “Curug Gentong”. Curug dalam bahasa Sunda berarti air terjun,” jelas Rico yang terjun ke bisnis ini tahun 2003.
 
Dengan modal yang relatif tidak besar, Rico memulai bisnisnya. Ia memproduksi beragam curug gentong dengan desain-desain unik. Produk-produk itu kemudian diperkenalkannya lewat berbagai pameran. Ternyata responnya sangat bagus.

Rico mulai mendapat pesanan dari pembeli lokal maupun asing lewat pameran-pameran yang diikutinya. Keberhasilan ini bukan hanya mengangkat nama Rico sebagai pengusaha sekaligus pembuat curug gentong tapi juga Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Depok, Jawa Barat. Instansi pemerintah Depok itu menetapkan karya Rico sebagai salah satu produk unggulan kota Depok.
 
“Saya memang belum pernah berpameran ke luar negeri. Namun sejumlah pembeli asing, entah wisatawan atau pebisnis, saya dapat dari berbagai pameran di dalam negeri. Malah baru-baru ini saya dapat pembeli dari Malaysia dan Singapura. Mereka memesan curug gentong,” kata Rico yang mengaku hanya mengandalkan pemasarannya hanya pada pameran-pameran.
 
Ia tidak memasukkan produknya ke art shop-art shop atau gallery yang banyak bertebaran di mana-mana. Bukannya tak ada permintaan untuk hal tersebut, namun menurut Rico karena produk yang dijualnya ‘bukan barang biasa’. “Produk saya perlu perawatan rutin agar tidak rusak. Misalnya, harus menambahkan air setiap dua pekan sekali atau membersihkannya sebulan sekali. Hal ini mungkin tak dilakukan secara telaten oleh petugas toko tempat barang ini dititip. Bisa-bisa barang saya jadi rusak. Kalau sudah begitu, kan, bisa sia-sia kerja saya. Makanya saya putuskan tidak menitipkan di art shop atau gallery, meski ada permintaan untuk itu,” tandasnya.
 
Karena belum memiliki gallery khusus di lokasi strategis, maka Rico membangun ruang pameran di rumahnya sendiri. Jika ada pembeli datang, bisa langsung memilih sesuai yang diinginkan.
Seiring makin derasnya permintaan, dia merekrut empat karyawan yang masing-masing menghasilkan enam curug gentong per tiga hari.
 
Bisa dibayangkan berapa produksi curug gentong Rico per tahunnya. Ini belum termasuk kalau ada pesanan maka ketiga anak maupun istrinya pun ikut terlibat dalam pembuatan. “Saya mengajarkan pembuatan curug gentong ini pada istri dan ketiga anak saya. Boleh dibilang merekalah murid saya pertama. Sekarang mereka sudah menguasai pembuatannya dan aktif membantu. Selain itu istri saya juga terlibat dalam manajemen usaha ini,” tuturnya.

Bicara pengadaan material curug gentong, Rico mengatakan, sejauh ini tidak menemukan kendala yang berarti. Hal ini karena material yang digunakan selain berasal dari dalam negeri juga mudah mendapatkannya. Materialnya antara lain batu karang, batu apung dan semen sedangkan gentongnya didapat dari Tangerang dan Serang.
 
“Khusus untuk kelas menengah atas, saya menggunakan gentong keramik supaya lebih elegan dan eksklusif,” ucapnya seraya mengatakan sudah mematenkan karyanya sejak dua tahun silam. Dari segi desain dia pun tidak merasa kesulitan. Idenya dari alam, tambah Rico yang mengaku bila merasakan kebuntuan ide, dia lari
ke alam.
 
Alam memang menjadi sumber inspirasi Rico. Ia tidak mencarinya di buku atau media lain. Justru kalau sekadar menjiplak dari majalah atau yang lain, idenya jadi buntu.
Tak Khawatir Dijiplak
 
Tentang produk-produk yang laris dan rawan mengalami penjiplakan dari pihak lain, Rico
tidak mengkhawatirkan hal tersebut. “Kalau ada yang menjiplak, ya bagus lah, berarti ikut mengentaskan pengangguran. Saya tidak merasa tersaingi, saya sudah siap kok,” ujar Rico santai.
 
Baginya persaingan justru lebih bagus semakin memacu kreativitas. Kuncinya kreatif, inovatif dan desain harus terus diperbaharui. Misalnya, curug gentong yang tampak seolah mengeluarkan asap, curug gentong aromatherapy, curug gentong yang bisa digantung dan curug dalam pigura.
 
Untuk karyanya, Rico mengaku tidak mematok harga tinggi. Variasi harga berkisar antara Rp 200.000 sampai Rp 2 juta. Tidak terlalu mahal memang untuk sebuah karya seni yang unik. “Saya ingin semua lapisan masyarakat bisa menikmatinya. Harga semakin tinggi kalau tingkat kesulitan pembuatannya makin rumit,” ucapnya sambil menunjuk sebuah curug gentong yang dihargainya Rp 800 ribu.
 
Ketika Tokoh berkunjung ke standnya, curug gentong yang tersisa hanya beberapa. Itupun yang harganya di bawah Rp 1 jutaan. “Curug gentong yang lain sudah laku terjual. Termasuk curug gentong yang terbuat dari keramik,” kata Rico yang juga menyelenggarakan kursus pembuatan curug gentong di rumahnya.

sehubungan banyaknya pihak yang meniru produk saya maka untuk pemesanan atau pertanyaan tentang curug gentong langsung saja hubungi saya di no telp . 021-77824251 Fax. 021.7707391 / HP. 0815 85321482

tidak ada nomor lain

Curug Media Teratai Besar 1

Curug Media Teratai Besar 1

Harga Rp.1.300.000,-

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: